Sabtu, 12 Februari 2011

SENIF FI SABILILLAH MAHASISWA

NO NAMA REKOM IPK DAFT. KARTU SURAT SURAT FORM CABANG
CAB NILAI MHS/KTP KAMPUS PERM. MHS
1 Almi Sahri v v v v v v Pondok Gede
2 Aminah binti Nasruddin v 83.72 v v v v v Pasar Minggu
3 Arkan Mustami Addien v 3.19 v v v v v Bogor
4 Cut Eva Novita Restu v 89.88 v v v v v Pasar Minggu
5 Ervika Wardani WD v 3.21 v v v v v Bogor
6 Fachrina Muhammad v 73.6 v v v v v Pasar Minggu
7 Gladis Nadia v 3.48. v v v v v Bogor
8 Indriani v 3.02 v v v v v Bogor
9 Jayadin v v v v v v Pondok Gede
10 Khairunnisa v 85.12 v v v v v Pasar Minggu
11 M. Kasyfunnur v 3.27 v v v v v Matraman
12 Maman Firmansyah v 3.63 v v v v v Bogor
13 Muhammad Afrizal v 2.83 v v x v v Bogor
14 Muhammad Syauqi v 93 v v v v v Pasar Minggu
15 Muhammad Zamzami 3.26 v v v v v Depok
16 Muhardi v v v v v v Pondok Gede
17 Nora Yanti v 3.04 v v v v v Bogor
18 Nur Intan Ramadhan v 3.57 v v v v v Pasar Minggu
19 Nurmiati v 3.58 v v v v v Matraman
20 Piter Jumadi v v v v v v Pondok Gede
21 Rahmat Rizki v 2.96 v v v v v Bogor
22 Rahmatsyah v 96 v v v v v Pasar Minggu
23 Reviana Keumala v 3.36 v v v v v Bogor
24 Ria Achdarina (Dipl) v v v v v v v Pasar Minggu
25 Riyan Fahmi v 2.89 v v v v v Bogor
26 Saiful Fikri v v v v v v Pondok Gede
27 Sudiansyah v v v v v v Pondok Gede
28 Syahrul Amin v v v v v v Pondok Gede
29 Tirta Angraini v 2.84 v v v v v Bogor
30 Ummaira Violita v 3.32 v v v v v Bogor
31 Yahya Hanafiah AA v 89 v v v v v Pasar Minggu

SENIF FI SABILILLAH MAHASISWA

NO NAMA REKOM IPK DAFT. KARTU SURAT SURAT FORM CABANG
CAB NILAI MHS/KTP KAMPUS PERM. MHS
1 Almi Sahri v v v v v v Pondok Gede
2 Aminah binti Nasruddin v 83.72 v v v v v Pasar Minggu
3 Arkan Mustami Addien v 3.19 v v v v v Bogor
4 Cut Eva Novita Restu v 89.88 v v v v v Pasar Minggu
5 Ervika Wardani WD v 3.21 v v v v v Bogor
6 Fachrina Muhammad v 73.6 v v v v v Pasar Minggu
7 Gladis Nadia v 3.48. v v v v v Bogor
8 Indriani v 3.02 v v v v v Bogor
9 Jayadin v v v v v v Pondok Gede
10 Khairunnisa v 85.12 v v v v v Pasar Minggu
11 M. Kasyfunnur v 3.27 v v v v v Matraman
12 Maman Firmansyah v 3.63 v v v v v Bogor
13 Muhammad Afrizal v 2.83 v v x v v Bogor
14 Muhammad Syauqi v 93 v v v v v Pasar Minggu
15 Muhammad Zamzami 3.26 v v v v v Depok
16 Muhardi v v v v v v Pondok Gede
17 Nora Yanti v 3.04 v v v v v Bogor
18 Nur Intan Ramadhan v 3.57 v v v v v Pasar Minggu
19 Nurmiati v 3.58 v v v v v Matraman
20 Piter Jumadi v v v v v v Pondok Gede
21 Rahmat Rizki v 2.96 v v v v v Bogor
22 Rahmatsyah v 96 v v v v v Pasar Minggu
23 Reviana Keumala v 3.36 v v v v v Bogor
24 Ria Achdarina (Dipl) v v v v v v v Pasar Minggu
25 Riyan Fahmi v 2.89 v v v v v Bogor
26 Saiful Fikri v v v v v v Pondok Gede
27 Sudiansyah v v v v v v Pondok Gede
28 Syahrul Amin v v v v v v Pondok Gede
29 Tirta Angraini v 2.84 v v v v v Bogor
30 Ummaira Violita v 3.32 v v v v v Bogor
31 Yahya Hanafiah AA v 89 v v v v v Pasar Minggu

Minggu, 12 Desember 2010

CATATAN UNTUK MAHASISWA

PENJELASAN UNTUK PERMOHONAN BEASISWA, SEBAGAI BERIKUT:

1. SETIAP MAHASISWA YANG MENGAJUKAN PERMOHONAN BANTUAN BEASISWA SUPAYA BENAR-BENAR MEMATUHI DAN MEMENUHI PERSYARATAN YANG TELAH DITETAPKAN BAZ-TIM PUSAT.

2. BAGI NMAHASISWA SEMESTER SATU, YANG BELUM MEMPEROLEH TRANSKRIP NILAI DARI FAKULTAS/JURUSAN MASING-MASING, TENTU BELUM MEMENUHI PERSYARATAN YANG DIMAKSUD, MAKA BELUM LAYAK MENGAJUKAN PERMOHONAN; DAN BISA MENGAJUKAN TAHUN DEPAN.

3. BAGI MAHASISWA YANG BELUM MENCUKUPI SYARAT-SYARAT TERSEBUT, TIDAK DIKABULKAN PERMOHONANNYA SAMPAI IA MELENGKAPINYA.

4. TRANSKRIP NILAI MERUPAKAN SYARAT MUTLAK YANG HARUS DIPENUHI UNTUK MENGETAHUI KRITERIA LAYAK ATAU TIDAK LAYAK UNTUK DIKABULKKAN PERMOHONAN.

5. TRANSKRIP NILAI YANG SAH ADALAH YANG DITANDA TANGANI OLEH YANG BERWENANG DAN DISTEMPEL FAKULTAS/JURUSAN (STEMPEL BASAH, BUKAN FOTOCOPY).

6. NILAI IP/IPK MINIMAL 2,70. IP/IPK DI BAWAH 2,70 TIDAK LAYAK DIBERIKAN BANTUAN BEASISWA.

7. MAHASISWA YANG BERHAK MENGAJUKAN PERMOHONAN ADALAH MAHASISWA YANG BERASAL DARI ACEH DAN ATAU ORANG TUANYA ASLI ACEH (IBU DAN ATAU AYAH).

8. MAHASISWA DIBATASI PADA MAHASISWA YANG MENGIKUTI PENDIDIKAN DI JABODETABEK (JAKARTA, BOGOR, DEPOK, TANGERANG, DAN BEKASI). MAHASISWA DI LUAR JABODETABEK TIDAK DAPAT MENGAJUKAN PERMOHONAN.

9. JENJANG PENDIDIKAN YANG BOLEH MENGAJUKAN PERMOHONAN BEASISWA ADALAH:

1) JENJANG DIPLOMA TIGA (D3)
2) JENJANG STRATA SATU (S1)
3) JENJANG STRATA DUA (S2)
4) JENJANG STRATA TIGA (S3)

10. BAGI MAHASISWA YANG TIDAK MEMILIKI NILAI IP/IPK SEBAGAIMANA LAZIM DIGUNAKAN DI PERGURUAN TINGGI ATAU UNIVERSITAS, KRITERIA YANG DIPAKAI ADALAH MINIMAL DERAJAT JAYYID JIDDAN; TRANSKRIP NILAI HARUS DILAMPIRKAN.

DEMIKIANLAH KETERANGAN BAZ-TIM PUSAT AGAR DAPAT DILAKSANAKAN SEBAGAIMANA MESTINYA.
GOOD LUCK...MA'AN NAJAH...!!

KETUA BAZ-TIM

TGK. H. HASYIM SYAM


WAKIL KETUA

TGK. HASAN BASRI


SEKRETARIS

TGK. NASIR


BENDAHARA

ASHIM M. DAUD


DISTRIBUTOR

TG. A. MUFAKHIR MUHAMMAD

ZAKAT PROFESI, PENDAPAT SAHABAT

HARTA PENGHASILAN MENURUT PARA SAHABAT DAN TABI'IN

1. IBNU ABBAS

Abu Ubaid meriwayatkan dari Ibnu Abbas tentang seorang
laki-laki yang memperoleh penghasilan "Ia mengeluarkan
zakatnya pada hari ia memperolehnya."

Demikian pula diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dari Ibnu
Abbas. Hadis tersebut shahih dari Ibnu Abbas, sebagaimana
ditegaskan Ibnu Hazm. Hal itu menunjukkan ketiadaan
ketentuan satu tahun bagi harta penghasilan, menurut yang
difahami dari perkataan Ibnu Abbas. Tetapi Abu Ubaid berbeda
pendapat mengenai itu, "Orang menafsirkan bahwa Ibnu Abbas
memaksudkan penghasilan Itu berupa emas dan perak sedangkan
saya menganggapnya tidak demikian. Menurut saya ia sama
sekali tidak mengatakan demikian karena tidak sesuai dengan
pendapat umat. Ibnu Abbas sesungguhnya memaksudkannya zakat
tanah, karena penduduk Madinah menamakan tanah harta benda.
Bila Ibnu Abbas tidak memaksudkan demikian, maka saya tidak
tahu apa maksud hadis tersebut.

Abu Ubaid adalah imam dan ahli dalam persoalan zakat harta
benda dan ini tidak bisa diragukan. Ia memiliki beberapa
ijtihad dan tarjih yang cemerlang, yang sering saya kutip,
namun saya menilai pendapatnya dalam masalah ini lemah;
karena tidak sesuai dengan apa yang difahami dengan serta
merta oleh umat dan dengan apa yang difahami oleh para ulama
sebelumnya. Bila memang yang salah itu yang dimaksudkan maka
ia tidak akan dipandang istimewa oleh Ibnu Abbas, yang
banyak meriwayatkan darinya.

Pada dasarnya hadis tersebut harus difahami menurut zahirnya
tanpa penafsiran, kecuali bila terdapat sesuatu yang
menghambat pemahaman menurut zahirnya tersebut tetapi
penghambat itu tidak ada.

Pendapat Abu Ubaid yang menyatakan terdapat penghambat untuk
menerima pengertian zahir hadis tersebut tidak dapat
diterima karena:

1. Ibnu Abbas tidak pernah menyendiri dari pendapat umat.
Yaitu yang telah disepakati oleh Ibnu Mas'ud, Mu'awiyah,
yang kemudian diikuti orang-orang sesudahnya seperti Umar
bin Abdul Aziz, Hasan, Zuhri dan lain-lainnya.

2. Tidak merupakan keharusan bagi seorang sahabat yang
mujtahid dalam masalah-masalah yang tidak ada nashnya, untuk
menunggu pendapat ulama yang lain, kemudian mengumumkan
pendapat dan ijtihadnya bila sesuai dan tidak mengumumkannya
bila tidak sesuai dengan ulama yang lain. Bila demikian,
maka tentu tak seorang mujtahid pun mau mengeluarkan
pendapatnya. Yang benar adalah seorang- mujtahid harus
mengeluarkan pendapatnya baik sesuai dengan pendapat yang
lain atau tidak, yang kadang-kadang betul terjadi
kesepakatan secara konkrit tetapi kadang-kadang tidak
terjadi.

3. Sahabat yang mempunyai pendapat sendiri merupakan hal
yang tak dapat dielakkan, dan hal tersebut tidak jarang
terjadi dalam warisan hukum fikih kita. Ibnu Abbas misalnya
mempunyai pendapat sendiri tentang perkawinan mut'ah, daging
himar peliharaan, dan lain-lain. Pendapat Ibnu Abbas
tersebut-bila benar-tidak bisa dibawa keluar dari
zahirnya untuk disesuaikan dengan pendapat sahabat lainnya.

Abu Ubaid sendiri tidak mengharuskan penafsiran tersebut
mesti diumumkan, tetapi mengatakan saya duga atau saya
mengira, dan dalam penutup ia mengatakan; "Bila ia (Ibnu
Abbas) tidak memaksudkan, maka saya tidak tahu apa maksud
hadis tersebut?"

2. IBNU MAS'UD

Abu Ubaid meriwayatkan pula dari Hubairah bin Yaryam,
Abdullah bin Mas'ud memberikan kami keranjang-keranjang
kecil kemudian menarik zakatnya. Abu Ubaid menafsirkan lain
hal itu bahwa zakatnya ditarik karena memang benda itu sudah
wajib dikeluarkan zakatnya waktu itu, bukan karena
diberikan.

Penafsiran lain itu kadang-kadang dilakukan takwil
serampangan yang berbeda maksudnya dengan makna yang dapat
langsung difahami, dan berbeda pula dengan pendapat yang
berasal dari Ibnu Mas'ud bahwa maksud penarikan zakat diatas
adalah penarikan zakat atas pemberian Hubairah mengatakan
bahwa lbnu Mas'ud mengeluarkan zakat pemberian yang ia
terima sebesar dua puluh lima dari seribu. Ibnu Abi Syaibah,
dan at Tabrani, juga meriwayatkan demikian. Hubairah
sendiri sebenarnya mengakui riwayat pertama yang ditakwilkan
oleh Abu Ubaid. Pemotongan sebesar tertentu itu hampir sama
dengan apa yang disebut oleh para ahli perpajakan sekarang
dengan Pengurangan Sumber, bukan diambil karena kekayaan
asal memang sudah wajib bayar pajak karena sudah lewat masa
setahunnya. Bila Ibnu Mas'ud mengambil zakat dari pemberian
lain tentu ia tidak akan mengeluarkan zakat dari pemberian
yang dikenakan dari kekayaan asalnya sebesar dua puluh lima
dari setiap seribu yang mungkin lebih sedikit atau lebih
banyak dari seharusnya. Barangkali Abu Ubaid belum
mengetahui riwayat itu, sehingga dia memberikan takwil
tersebut.

3. MU'AWIYAH

Malik dalam al-Muwaththa dari Ibnu Syihab bahwa orang yang
pertama kali mengenakan zakat dari pemberian adalah
Mu'awiyah bin Abi Sufyan. Barangkali yang ia maksudkan
adalah orang yang pertama mengenakan zakat atas pemberian
dari khalifah, karena sebelumnya sudah ada yang mengenakan
zakat atas pemberian yaitu Ibnu Mas'ud sebagaimana sudah
kita jelaskan. Atau barangkali dia belum mendengar perbuatan
Ibnu Mas'ud tersebut, karena Ibnu Mas'ud berada di Kufah,
sedangkan Ibnu Syihab berada di Madinah.

Yang jelas adalah bahwa Mu'awiyah mengenakan zakat atas
pemberian menurut ukuran yang berlaku dalam negara Islam,
karena ia adalah khalifah dan penguasa umat Islam. Dan yang
jelas adalah bahwa zaman Mu'awiyah penuh dengan kumpulan
para sahabat yang terhormat, yang apabila Mu'awiyah
melanggar hadis Nabi atau ijmak yang dapat
dipertanggungjawabkan para sahabat tidak begitu saja akan
mau diam. Para sahabat pernah tidak menyetujui Mu'awiyah
tentang masalah lain, ketika Mu'awiyah memungut setengah
sha' gandum zakat fitrah untuk imbalan satu sha' bukan
gandum, seperti diberitakan hadis Abu Said al-Khudri
sedangkan Mu'awiyah sendiri - meski dikatakan bahwa
ucapannya terlalu berlebih-lebihan dan banyak salah- tidak
bermaksud menyanggah sunnah yang tegas dari Rasulullah
s.a.w.

4. UMAR BIN ABDUL AZIZ

Empat periode Mu'awiyah, datanglah pembaru seratus tahun
pertama yaitu khalifah Umar bin Abdul Aziz. Pandangan baru
yang diterapkannya adalah pemungutan zakat dari pemberian,
hadiah, barang sitaan, dan lain

Abu Ubaid menyebutkan bahwa bila Umar memberikan gaji
seseorang ia memungut zakatnya, begitu pula bila ia
mengembalikan barang sitaan. Ia memungut zakat dari
pemberian bila telah berada di tangan penerima.

Dengan demikian ucapan ('Umalah) adalah sesuatu yang
diterima seseorang karena kerjanya, seperti gaji pegawai dan
karyawan pada masa sekarang. Harta sitaan (mazalim) ialah
harta benda yang disita oleh penguasa karena tindakan tidak
benar pada masa-masa yang telah silam dan pemiliknya
menganggapnya sudah hilang atau tidak ada lagi, yang bila
barang tersebut dikembalikan kepada pemiliknya merupakan
penghasilan baru bagi pemilik itu. Pemberian (u'tiyat)
adalah harta seperti honorarium atau biaya hidup yang
dikeluarkan oleh Baitul mal untuk tentara Islam dan
orang-orang yang berada dibawah kekuasaannya.

Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan, bahwa Umar bin Abdul Aziz
memungut zakat pemberian dan hadiah. Itu adalah pendapat
Umar. Bahkan hadiah-hadiah atau bea-bea yang diberikan
kepada para duta baik sebagai pemberian, tip, atau kado,
ditarik zakatnya. Hal itu sama dengan apa yang dilakukan
oleh banyak negara sekarang dalam pengenaan pajak atas
hadiah-hadiah tersebut.